Kamis, 25 Desember 2014

entah


Seperti halnya hidup. Yang tak tau haris apa, kadang merasa samar samar putih abu-abu bahkan hitam. Sama sekali tak terlihat oleh kita. Kita hanya berjalan dan terus berjalan. Tanpa tau arah dan tujuan. Sepertihalnya kita. Tak tau entah smpay kapan kita bisa berhenti dan menemukanmu. Pergi dan melupakanmu. Di pertemukan kembali oleh takdirku. Akujuga tidak tau. Akan seperti itu atau tidak Hanya jalan di depanmataku yang selalu menuntunku untuk hidup. Entah bersama kamu atau tidak. Atau berjalan untuk melupakanmu. Hanya bisa mncoba untuk berjuang agar lebih baik. Terus berjalan untuk belajat, belajar, belajar untuk melupakanmi. mungkin suatu saat kita bisa dipertemukan. Dan lalu menghilang.

Selasa, 14 Oktober 2014

jalanku

Kata banyak manusia kita adalah aktor utama di dalam hidup ini, dan tuhan lah sutradaranya, , Kita hanya manusia hanya bisa mnjalankan sekenario yang sudah di berikan tuhan kepada kita. Tpi kita tidak tau jalan akhirnya, apakah mau bahgia atu menderita selamanya, ,sebenarnya tuhan tidak memberikan penderitaan kepada kita. Selama kita bisa mngucap syukur apa yang telah tuhan berikan kepada kita. Memang manusia itu banyak maunya. Inilah itulah, ЪƘ pernah puas akan pemberian tuhan kepada kita. Sebagian banyak manusia hanya bisa menuntut apayang di inginkan tuhan, tapi tidak melaksanakan kwajiban dengan adil, hal yang sudah di wajibkan tidak kita laksanakan? Apakah itu adil? Sedangkan kita selalu menuntut dengan segala apayang kita inginkan dan kita harapkan. Inilah sifat manusia yang tidak akan pernah sebuah kepuasan. Selalu saja bilang serba kekurangan. Bukankah nikmat sehat itu sudah sangat luar biasanya yang tuhan berikan kepada kita. Oya btw. Aku mau bilang hari ini awal dari hidupku lagi. Tepat'a aku pertama kali mnginjakan kaki di tnah rantu tepat'a di daerah Cirebon. Aku hanya bisa berdoa, apa yang tuhan berikan, adalah jalan hidup dari aku. Semoga takan gagal lagi. Doaku hariini smoga lancar dengan apa ang aku harapkan. Bukankah manusia selalu berdoa dan berusaha? Ga salah kan? Berdoa lalu berusaha! Setidaknya aku telah berjuang. Dan sisanya aku bertikan kepada Allah swt.

Minggu, 07 September 2014

do'aku

Indiahkah akan akhir jalan hidupku. Terasa molay berat rasanya tuhan hidup yang aku jalanisekarang. Beginikah engkau mengujiku. Dengan semua beban yang terasa berat di pundaku. Seakan aku tak mampu lagi mengankat dan untuk berjalan tubuh ini. Kasih tau hamba tuhan jika aku kurang baik dimatamu. Agar aku bisa tau apa salahku dan memperbaikinya. Agar aku bisa menghapus dosa-dosaku yang terlihat dimatamu. Bimbinglah hambamu ini tuhan. Bimbing hamba agar menjadi orang yang baik dimatamu. Orang yang bijak di mata semua umat-umatmu. Orang yang berharga bagi kedua orangtuaku dan keluargaku. Apakah ini memeang jalan takdirku tuhan. Aku akan coba sekuat mungkin untuk menjalani semua walau terasa sulit. Jadilah awal kesulitan ini juga jadi awal dari segala"nya. Awal untuk menjadi hamba Mu yang lebih baik lagi. Awal dari sebuah perjalanan hidup untuk bisa memilah milah jalan yang baik dan buruk untuk aku. Awal dari sebuah kesuksesan aku. Awal dari jalan untuk menuju cinta akan nabiku dan pangeranku. Ɣɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ Allah limpahkanlah kemudahan dari segala beban yang ada di pundku. Angkatlah semua masalah yang ada dalam hidupku. Sehingga aku bisa merjalan dengan ringan untuk memulay awal hidup yang lebih baik lagi. Ɣɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ allah lancarkanlah segala urusan dunia dan akhirat hamba Ɣɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ Allah. Dekatkan pula aku dengan orang yang bisa membimbing aku untuk menuju jalan imanmu. Temukan hamba dengan orang yang benar" mencintaiku dan mencintai tuhan'a. Temukanlah aku dengan sosok wanita yang abik hati, lemah lembutn yang punya jiwa keibuan yang selalu menyayangi anak anak'a. Temukanlah hamba dengan sosok wanita yang sellu menuruti perintah-perintah suaminya. Temukan aku dengan wanita yang selalu menutup aurat'a dengan rapat-rapat kepada bukan mukhrim'a. Ɣɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ allah jadilah hamba sosok lelaki yang selalu memegang teguh imanmu. Jadilah hamba yang penuh tanggungjawab untuk membina keluarga kecilku. Yang selalu baik di mata isteiku. Yang bisa membimbing keluarga hamba menuju ridhomu. Ɣɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ allah kabulkanlah semua permintaan aku. Permintaan agar menjadi lebih baik lagi dalam agamu. Aminn

Kamis, 24 Juli 2014

lebaran di tanah rantau

Mlm ini adalah malam -3 mnjelang lebaran. Duduk sendiri di tempat kerja, ,maaf ibu, ayah, ,anakmu belum bisa mnemui ayah dan ibu tersayang, , Doaku selalu menyertaimu, di setiap ku mnarik nafas dan belajar untuk mnjadi anak yang mandiri. Anakmu lagi berusaha mencari keperuntungan di tanah rantu ini Bogor! Banyak kisah dan cerita di sini ayah ibu, yang bisa mnjadikan anak nakalmu ini mnjadi sedikit lebih dewasa! Mngerti akan halnya hidup. Mengerti apa itu susah mncari sesuap nasi. Aku di sini baik"saja ibu, , semoga ayah dan ibu juga baik"saja di rumah, ,anakmu mnyayngimu Kangen banget rasanya aku ini memeluk bliau dan meminta maaf atas kenakalanku ini sewaktu kecil. Sering kali membagkang dan mnghambur"kan uang yang buat keperluan tak berguna. Ternyata ini ibu. Anakmu ini telah merasakan'a Betapa suahnya mencari uang, , Tapi anakmu ini masih tetap berusaha ibu, ,demi membahagiakanmu dan demi cita"ku. Semoga anakmu ini mnjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya dan meraih kesuksesan. ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ Anakmu sayang ibu dan ayah. :)

Sabtu, 12 Juli 2014

berlajar dari hidup

Seberapakah manusia mempunyai kesabarn?
Mungkin sabar adalah sesutu kehrusan dalam mnjalani hidup. Suatu keharusan manusia hidup dalam sebuah kesabran.
Kadang kita terlalu tergesa-gesa dalam memutuskan sebuah keputusan yang kadang merugikan diri sendiri.
Karna kurang sabarnya kita untuk bertindak atau kurang sabarny kit dalam memilih sebuah kehidupan.
Banyak sekali kita mngalami hal yang membuat kit mnyesal di kemudian hari krna kita terlalu ceroboh dlam berpikir kita atau kurangnya kesabaran kita dalam menjalani hidup. Dan al hasil kita selalu menyesal dengan keputusan- keputusan yang di but kita sendiri.
Dlam agama kita di ajarkan sebuah kesabaran.
Pahit memang akan tetapai darii sebuah kesabaran akn berbuah manis. Selama kita bersabar dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bukan hanya sabar saja, tapi sbar akan berbuah manis jika di dampingi sebuah keikhlasan.
Ikhlas untuk menerima apa yang tuhan sudah mngambil sesuatu yang amat berharga dlam hidupkita, ikhlas dalam mnjalankan aturan-aturan yang sudah di tetapkan-Nya. Sebagay manusia hanya bisa merencanakan dan sisanya apakah rencna kita di ridhoi-Nya, apakah rencana kita akan di gaantikan dengan rencana-nya yang mungkin lebih indah dari rencana kita.
Sebagay manusia kita hanya bisa berdoa, dan berikhtiar serta di dasari rasa sabar dan keikhlasan diri.
Inssyaallah kita akan menuai hasil manis dari kesabaran. Amin

Mata Hati: Kisah Nyata : 2 kenyataan hidup pahit seorang wanita mapan

Mata Hati: Kisah Nyata : 2 kenyataan hidup pahit seorang wanita mapan

Mata Hati: Kisah Nyata : 2 kenyataan hidup pahit seorang wanita mapan

Mata Hati: Kisah Nyata : 2 kenyataan hidup pahit seorang wanita mapan

Rabu, 09 Juli 2014

pilihanku adalah jalan hidupku

Sudah lama sekali rasanya tak membuka blog yang ngawur ini. Hari ini adalah hari ang bersejarah bagi bangsaku juga bagi awal hidupku. Awal baru, pemimpin baru, kehidupan baru. Semoga apa yang aku pilih adalah sebuah pilihan yang selalu ada dalam ridho Allah swt. Mungkin hidup ini adalah semua pilihan, pilihan untuk menjadi orang maju atau sebaliknya, hanya berfikir untuk hari ini dan esok saja bukan untuk memikirkan hari ini dan untuk haRri ini saja melainkan untuk memikirkan untuk seumur hidupku. Inilah manusia mungkin banyak merencanakan rencana yang berlebihn. Bukankah manusia hanya merencanakanya saja dan berdoa agar rencana-rencana itu menjadi sebuah kenyataan. Namun kehendak yang Kuasalah yang memberi jalan dari sebuah rencana-rencana itu semua yang kita rencanakan. Bahkan tak semua apa yang kita rencanakan tak sejalan apa yang sudah kita rencanakan. Bahkan meleset jauh dari jalan yang kita sudah pikirkan matang matang. Semua itu kembali pada yang maha Kuasa. Manusia hidup penuh dengan rencana-rencananya, dan apakah Tuhan selalu meridhoi rencana2 kita. Inilah hidup. Kadang kita hidup didunia ini seperti halnya roda. Roda yang akan terus berputar pada porosnya. Kita bahkan belum tau pasti kapan kita akan berada di atas kapan juga akan berada di bawah. Kita hanya cuman bisa mngikuti khidupan. Mnjalani ketentuan ketentuannya. Dengan lapang dada, rendah hati, ikhlas, dan juga tawakal.

Rabu, 04 Juni 2014

bunda any

Hay apa kabar bunda any, , Ayah kangen ni, ayah disini baik" saja, nkalau bunda gimana, , Sehat juga kan, apa aku tak harus mnghawatirkn kamu lagi, karna kamu sudah ada yang ngejagain kamu, , Tapi aku takut bunda, kalau kamu disana tak merasa bahagia seperti yang ayah rasain sekarang! Semoga saja bunda bahagia di sana yah? Ayah rindu bnget sama bunda, Snyuman'a, canda tawanya, bahkan ambekan'a, ,ayah kangen pada masa" itu, kita bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi. Ayah kangen nda masa"itu Anday waktu bisa kupeutar kembali, , Ayah janj, ayah ЪƘ bakalan buat bunda ambekan lagi deh, ,ayah akan buat bunda selalu tersenyum, , Suer!!!ayah mau janji di hadapan bunda dan di saksiin sama Allah swt. Kalau ayah ЪƘ mau bikin bunda sedih lagi. Ayah pengn berdua lagi kaya dulu bunda. Susah, senang, sedih, kita bisa lalui bersama! Ayahh kangen bangett saat ini, mngkanya ayah tulis disini. Siapa tau bunda buka internet dan liat tulisan ini. Kalau ayah lgi kangen sama bunda, , Dear: bunda ani tersayang :)

Minggu, 01 Juni 2014

kisah hidup

cinta yang semestinya, ,kini berakhir luka, seseorang pnyemangat hidup pergi mninggalkan aku demi keinginan keluarganya, apa aku yang salah, apa dia yang salah, apa dia tak mau mnunggu untuk kesuksesan aku, memamg wanita tidak untuk dilahirkan untuk mnunggu. setidaknya aku telah myakinkan'a bahwa aku selalu cinta, , kekecewaan ini terlalu dlam, karna aku telah memilih dia untuk jadi yang terakhir dalam hidupku. tapi kamu memilih untuk mninggalkanku untuk orang lain. sungguh kecewa, sungguh terluka. seseorang yang kita cinya mninggalkanku begitu saja. setidaknya jiwa ini telah berjuang untuk keutuhan hubungan kita, tapi apa kamu takan pernah percaya dengan hatimu untuku, bahkan kamu ragu dengan hatiku kmu masih mnanyakan bahwa aq cinta kamu apa tidak, sungguh terlalu . sekian lama kita ajlani kamu masih mnanyakan itu. aku berjuang sejauh ini demi kita berdua, apa kamu gak tau! aq pergi mninggalkanmu bukan hanya untuk kesenanganku, tapi pergi untuk mewujudkan mimpi kita berdua. itu juga suruhmu, aku selalu mndengar apa perkatan aku, tapi kamu sebaliknya. trimakasih bunda, kamu telah mngajarkanku banyak hal yang aku belum ketahui di dunia ini. tentang keikhlasan, tentang kesetiaan, tentang seseorang berjuang untuk mimpi kita dan hanya untuk terbuang sia-sia aku tak pernah membencimu, mungkin hanya keadaan dan nasib yang tak mndukungku.

lirik lagu last child tak pernah ternilay

Kau menyiksaku di sini Dalam rasa bersalah yang kini Membunuhku secara perlahan Kau selalu menghindar dari Aku yang selalu mencoba ungkapkan semua Lewat tatap mata ini Ternyata maafmu tak pernah pantas untukku Kau anggap aku tak ada Dan kau tak pernah mengenal diriku Setidaknya diriku pernah berjuang Meski tak pernah ternilai di matamu Setidaknya ku pernah menanti Terkapar melawan sepi hatiku Yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu Kau menghukum hati ini hati yang dulu kau yakini Takkan pernah kecewakanmu Kau memutuskan tuk pergi Sebelum ku sempat memohon Dan mengemis agar kau tetap di sini Ternyata sedalam itu kau benci diriku Kau anggap ku tak terlihat Meski ku tepat di depan matamu Setidaknya diriku pernah berjuang Meski tak pernah ternilai di matamu Setidaknya ku pernah menanti Terkapar melawan sepi hatiku Yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu Setidaknya diriku pernah berjuang Meski tak pernah ternilai di matamu Setidaknya ku pernah menanti Terkapar melawan sepi hatiku Yang tak pernah bisa berhenti Setidaknya diriku pernah berjuang Meski tak pernah ternilai di matamu Setidaknya ku pernah menanti Terkapar melawan sepi hatiku Yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu

Sabtu, 31 Mei 2014

rinduku disna

hari demi hari ku lewatitanpa dirimu Bunda
hanya bayang semu dan rasa kecewa dalam benakku kenapa semua ini terjadi pada diriku
kasih yang dulu ada di hati
telah tega mninggalkanku
aku disini menunggumu menanti sebuah kepastian yang semu, mnanti dirimu kembali dalam peluku
aemua rindu ini kucurahkan padamu Bunda, ,
aku disini merindumu, ,ingin sekali rga ini dpat kembali memelukmu
tapi kamu kini telah bersamanya
membangun bahtera rumah tangga
apakah kamu bahagia? disii aku merasa tersiksa dan mnderita dengan perasaan ini,
sesekali aku mngingat knangan yang begitu lama kita jalani berdua
dan sesekali pula arir mata nini tak trbendunglagi, lalu jatuh dan mnetes di pipiku, ,
aq rindu skali kamu bunda, ,
canda tawamu, cuekmu,perhatianmu, ambekanmu, masih saja mnempel kuat dalam kepalaku
satu kata terakhir buaatmu Buanda
aku selalu mncintaimu dan selalu mnjadikanmu ujian dari hidupku
ALWAYS LOVE YOU Muuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaccccchhhhhh :)

rinduku padamu

hari demi hari ku lewatitanpa dirimu Bunda
hanya bayang semu dan rasa kecewa dalam benakku kenapa semua ini terjadi pada diriku
kasih yang dulu ada di hati
telah tega mninggalkanku
aku disini menunggumu menanti sebuah kepastian yang semu, mnanti dirimu kembali dalam peluku
aemua rindu ini kucurahkan padamu Bunda, ,
aku disini merindumu, ,ingin sekali rga ini dpat kembali memelukmu
tapi kamu kini telah bersamanya
membangun bahtera rumah tangga
apakah kamu bahagia? disii aku merasa tersiksa dan mnderita dengan perasaan ini,
sesekali aku mngingat knangan yang begitu lama kita jalani berdua
dan sesekali pula arir mata nini tak trbendunglagi, lalu jatuh dan mnetes di pipiku, ,
aq rindu skali kamu bunda, ,
canda tawamu, cuekmu,perhatianmu, ambekanmu, masih saja mnempel kuat dalam kepalaku
satu kata terakhir buaatmu Buanda
aku selalu mncintaimu dan selalu mnjadikanmu ujian dari hidupku
ALWAYS LOVE YOU Muuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaccccchhhhhh :)

apakah menikah harus dilandasi rasa saling cinta

Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan: “Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia. Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…, Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo. Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa. Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa- biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang. Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu. Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang- kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby. Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu. Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini? Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur. Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami. Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati. Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan- kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya. Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku. Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i. Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya. Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah- ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah. Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah.. Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya. Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga. ”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan. Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku: ”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup. “Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan. “Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek. Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu. Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak? Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.” Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku. Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua. Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku: “Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia. Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita. Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..” Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu :*

kasih tak sampay

Pangil saja ayah dan bunda Nama pangilan sayang kita berdua Tapi kini engkau telah tiada Dengan bnyak sesal yang aku simpan di dalam lautan jiwa Kini ngkau telah bersama membangun bhtera rumah tanga Tapi bukan aku Kmu begitu tega bunda Aku disini Terbunuh dengan sepi Mnjalni hari" tanpa dirimu bunda Ini adalah perjalanan hidupku yang terasa meleahkan bagiku Dulu bunda sesosok orang yang selalu bisa mlepas dengan lelah hidupku ini Canda dan tawamu mnyemangatlkan aku Tapi kini ngku telh bersamanya Merajut kasih dengan bahagia Di sini ku hanya di temni nestapa dan derita Tak ada lagi cinta Tak mau kenal lagi kata itu Dalam benaku aku bertanya Kenapa hidup ini berat Datang lalu hilang Kembali lalu mati Hanya tekad kuat ini yang selalu mnguatkanku Tanpa sosok dirimu lgi bunda Bunda ayah kangen