Sabtu, 31 Mei 2014
apakah menikah harus dilandasi rasa saling cinta
Seorang akhwat menceritakan kenangan masa
lalunya yang tak terlupakan:
“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku
Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang
hingga hari ini masih belum lengkang dalam
benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku
menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu
tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah
perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub
dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di
dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku
menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya.
Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal
sekampung denganku, tapi dia seleting dengan
kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4
Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak
Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya
dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu
terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku merasa risih
sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan
dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu
berlebihan pada orang-orang. Geli aku
menyaksikannya, yah, kampungan banget
gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak
Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama
teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke
rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti
menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri
taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak
Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota
Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya
membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat
bersama bapaknya di kebun atau di sawah.
Meskipun kadang sebagian teman sebayanya
menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya
yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak
Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran
ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang
gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak
Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara
di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-
biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok
Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa
istimewanya menghadiri taklim, kuper dan
kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya,
koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun
begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan
melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu
orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan
kembali ke kerja lagi.
Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton
pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng
teman-teman kek stiap malam minggunya di
pertigaan kampung yang ramainya luar biasa
setiap malam minggu dan malam kamisnya.
Apalagi setiap malam kamis dan malam
minggunya ada acara curhat kisah yang TOP
banget disebuah station Radio Swasta digotontalo,
kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati
dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis
modern pada umumnya yang tidak lepas dengan
kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri
memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai,
namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama
Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu.
Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan
sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas
hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku
dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku
kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak
Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan
melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.
Mendengar penuturan mama saat memberitahu
padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini
gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-
kencangnya menolak permintaan lamaran itu
dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan
langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku
menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan
dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula
bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh
tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau
sikapku yang egois itu akan membuat mama shock.
Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok
itu karena beliau sudah menerima secara resmi
lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku
sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku
seperti menelan buah simalakama, seperti orang
yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang
tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan
penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan
untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam
terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku
untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami
saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus
merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena
dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap
membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku
pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu
begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah
di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah
senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu,
mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus
melepaskan masa remajaku dan menikah dengan
lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling
membuatku tak bias menahan air mataku, mantan
kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan
tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus
terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang
harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin
merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan
kami. Satu per satu para undangan pamit pulang
hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam
kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di
dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya
terpaksa menikah dengannya, maka aku pun
membiarkannya dan langsung membaringkan
tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up
pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku.
Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu.
Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun
akhirnya tertidur.
Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak
tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri
disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup
kencang. Aku hampir saja berteriak histeris,
andai saja saat itu tak kudengar serua takbir
terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan
kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang
berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan
suamiku yang sedang sholat tahajud.
Perlahan aku baringkan tubuhku sambil
membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu
sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa
sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan.
Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa
menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu
karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun
kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari,
kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah
dibawah ranjang pengantin kami.
Dadaku kembali berdetak kencang kala
mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau
aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan
terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di
ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin
menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang
denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku
perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa
mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama
sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan
menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun
tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani
aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja
mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku
di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk
memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki
kewajiban melayani suamiku. Yah minimal
menyediakan makanannya, meskipun kenangan-
kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku,
aku bahkan masih merindukannya.
Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak
pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya
sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan
kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap
malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan
selalu tidur beralaskan permadani di bawah
ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami.
Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya
menjabat tanganku.
Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya.
Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah
lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku
butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah
sama sekali mengungkit- ungukitnya atau
menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah
kufahami, pernah secara tidak sengaja kami
bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan
meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah
menyetuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki
normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah
aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur
merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan
berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan
suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama
dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir
dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya?
padahal setiap hari dia mengisi acara-acara
keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada
orang-orang dan begitu patuh kepada kedua
orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir
semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan
hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar
dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan
terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah
batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan
darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai
menumbuhkan rasa cintaku padanya dan
membuatku perlahan-lahan melupakan masa
laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai
merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah.
Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya
dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya
lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita
muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah
yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak
Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton
besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu
adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah
kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang
berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai
selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki
tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang
manset berwarna gelap pula.
Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung,
sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah
konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku
mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk
menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama
sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya
atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan
siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu
bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan
kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun
sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-
ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku
praktekan di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya.
Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami
dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk
kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali
dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan
permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di
sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat
tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh
sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat
tinggi.
Aku sendiri bingung bagaimana cara
menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak
pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan
menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya.
Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini.
Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa
yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak
bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang
seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering
mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya
yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara
malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai
angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan,
pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku
bangun dari pembaringan dan menatapnya yang
sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya
yang sudah menjulur kekakinya.
Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya
atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu
bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku
tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk
mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba
suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit
dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk
agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek,
kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau
kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur
lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta
kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar
semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan
selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku
orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama
sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku
menetes sambil menahan isak yang ingin sekali
kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya
gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku
begitu dingin? kau bahkan tak pernah mau
menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat
tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku
telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku
sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya
diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak?
kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau
menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku
disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi
galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu.
Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi
duduknya dan melirik jam yang menempel di
dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia
mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak
tentang perasaan ini padamu. Karena
sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu.
Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu
sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu
untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti
suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka
selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak
minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan
padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud
kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak
Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak
begitu tega melakukan ini pada saya? tolong
jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak
Arfan. “Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu
pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur?
afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang
pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang
kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk
mendapatkan materi tanpa peduli apakah di
hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak.
Bahkan seorang pelacur terkadang harus
meneteskan air mata mana kala dia harus melayani
nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia
sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang
sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu
terjadi padamu dek.
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak
harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan
saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di
hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka.
Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat
melampiaskan birahi kakak padamu malam itu,
sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak
tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum
pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke
rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu.
Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar
rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak
sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada
kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa
kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada
Boby bahwa kau hanya akan mencintainya
selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah
mermpas kebahagiaanmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu
karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu
saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat
bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas
haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang
kau rasakan saat itu. Sementara tanpa
memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan
kewajiban kakak sebagai suamimu di malam
pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung
dengan deraian air mata karena terpaksa melayani
kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu,
kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan
semua itu manakala di hatimu telah ada cinta
untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa
hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang
kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari
ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa
bersyukur bila kau telah melupakan mantan
kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan
kau juga telah menggunakan busana muslimah
yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan
niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu
untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka
sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu
untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku
merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah
kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah
melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu,
aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.
Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk
pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai
seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan
bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik.
Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan
terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak
belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan
niatku dengan menggunakan busana yang syar’i,
semata-mata karena Allah dan untuk
menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah
tumbuh benih-benih cinta kami berdua.
Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan
dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama.
Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan.
Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku
bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan
tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku
fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama
diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil
cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami
kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak
Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan
tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti
kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan
kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku
kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan
olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu
singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir
kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat
menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah
fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah
besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga
Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai
mujahid yang senantiasa membela agama,
senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat.
Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada
seorang pria yang datang melamarmu, maka
pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu.
Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada
kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu.
Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia
ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di
akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak
yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya
Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum
keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat
itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku
berusaha mewujudkan harapan terakhirnya,
mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik.
Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu
mengenangmu :*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar